Rabu, 14 Mei 2014

Petani Peradaban

Judul               : Menjadi Guru Inspiratif
Penulis             : A. Fuadi, dkk
Penyunting      : M. Iqbal Dawami dan Ikhdah Henny
Penerbit           : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan           : I, Desember 2012
Tebal               : v + 186 halaman
ISBN               : 978-602-8811-80-4
Harga              : Rp 39.000,00
Peresensi         : Hibatun Wafiroh


A great teacher inspires. Guru yang hebat selalu menginspirasi. Nampaknya itu poin general yang ingin disampaikan dalam buku antologi yang ditulis oleh 14 penulis ini. Meski dalam balutan kisah yang berbeda, para penulis sepakat bahwa guru bukan sekedar mengajar, melainkan juga mendidik dan menggugah untuk selalu berbuat baik.

Bagi A. Fuadi, guru yang baik ibarat petani. Mereka menyiapkan bahan dan lahan belajar di kelas, memelihara baik-baik bibit penerus bangsa, menyirami mereka dengan ilmu dan memupuk jiwa mereka dengan karakter yang luhur (hal. 1). Mereka petani peradaban yang menentukan kualitas bangsa di masa depan.

Mawar di Tegarnya Karang

Judul               : Sunset Bersama Rosie
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Mahaka Publishing, Jakarta
Cetakan           : I 2011, III 2012
Halaman          : iii + 425 Halaman
ISBN               : 978-602-9888-36-2
Peresensi         : Hibatun Wafiroh

Setelah novel Hafalan Shalat Delisa sukses dilayarlebarkan dan serial Anak-anak Mamak—versi filmnya Anak Kaki Gunung—memperoleh apresiasi dari penonton televisi, Tere Liye makin meneguhkan eksistensinya di jagat sastra Indonesia melalui novel-novelnya, antara lain Sunset Bersama Rosie. Novel yang sebagian besar ceritanya ber-setting Gili Trawangan, Lombok, ini selain mengisahkan perjalanan manusia dewasa, juga memindai kehidupan anak-anak. Sang penulis amat lihai mengeksplorasi karakter anak.

Tegar Karang, si tokoh utama, tidak pernah dapat melupakan potongan kisah sendu masa lalunya. Saat itu senja di Gunung Rinjani, Lombok, tampak begitu memesona. Secara tidak sengaja, dari balik ranting pepohonan dia mendengar Nathan, sahabat karibnya, menakrifkan cinta pada Rosie. Rosie adalah gadis yang selama dua puluh tahun mengisi ruang hatinya. Padahal esok ketika sunrise Tegar berencana mengungkapkan seluruh perasaannya kepada Rosie. Sayang, Nathan telah mendahului dan Rosie menerima cinta lelaki yang baru dua tahun dikenalnya itu.

Koma

Pengap. Gerah. Sumpek. Tidak ada AC. Yang ada, dua kipas angin listrik yang memicu perdebatan sengit jika difungsikan. Keringat membanjiri badan orang-orang di ruang itu. Tangan mereka tak henti-hentinya menggerak-gerakkan kipas bambu untuk menghadirkan sedikit angin segar. Di sisi lain sebagian pasien berselubung lapis-lapis selimut karena kedinginan. Wajah mereka pucat sepucat suasana ruangan itu.

Delapan brankar berhimpitan satu sama lain. Jarak antar brankar hanya dua puluh sentimeter. Infus yang bertengger di tiang besi menandakan di brankar-brankar itu berbaring manusia penyandang penyakit. Tidak ada brankar yang kosong. Di brankar pertama, paling dekat dengan pintu masuk, tertidur pulas remaja perempuan. Dia selesai operasi usus buntu kemarin. Keadaannya kian membaik. Di sampingnya ibu bapaknya menungguinya tiada lelah. Di brankar kedua dan ketiga dua pasien bernasib sama terus menahan rasa sakit di bagian kaki. Mereka harap-harap cemas menanti pelaksanaan operasi tulang. Oh... kasihan sekali dua kakak beradik itu. Seandainya orang tua mereka berduit, pastinya mereka sudah dioperasi tak lama setelah ditimpa musibah kecelakaan.

Sabtu, 12 Januari 2013

Novelet: Melukis Purnama (Part 2)

Oleh: Hibatun Wafiroh
Part /2/
Gadis manis berlesung pipit itu sedang asyik menekuri selembar kertas A4 yang dijepit running board. Pensil 2B berpose centil di antara jari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya. Hati-hati ia ajari pensil itu menari, menggores gurat nan apik, mengikuti lonjakan imajinasinya. Sesekali ia usapkan jilbab putihnya ke muka untuk menyapu biji-biji keringat.

Ia konsentrasi. Setip di meja tidak guna. Sekali menggurat, ia tidak kenal setip-menyetip. Gentar ia menengok ke belakang, tak ragu akan guratannya.

“Alhamdulillah, selesai.” Ia girang. Senyum tersungging. Menawan.

“Yes! Selesai. Hore....” Bahagia. Ia seperti baru memenangkan sesuatu.

Kawan-kawan di sekitarnya langsung merubungnya, tak sabar ingin tahu hasil torehan tangannya. Sebuah sketsa wajah menyedot perhatian seisi kelas.

Novelet: Melukis Purnama (Part 1)


By: Hibatun Wafiroh
Part /1/
 Air bening luapan kepedihan merembes, membasahi bantal Sponge Bob yang menyangga kepala Mea. Wajahnya pucat pasi. Rambut panjangnya awut-awutan, tidak terurus, kusut. Seminggu lebih tetes sampo tidak menyegarkan kulit kepalanya. Bibirnya bergetar, berucap dengan intonasi rendah, “Tuhan, cabutlah nyawaku! Takdir-Mu terlalu sulit untuk kujalani. Aku tak sanggup. Kumohon akhiri hidupku sekarang, ya Allah. Kumohon....”

Badai air mata kembali menerjang benteng pertahanannya. Ah, derita tak tertanggungkan nyaris menyerabut iman dari kalbunya. Kalau tidak sedari kecil otaknya dituangi pelbagai pengetahuan agama, barangkali sekarang kondisinya jauh lebih parah. Sabar yang dulu kuat dipeluknya, kini perlahan ia hempaskan. Ia benci tiap kali ibunya menasihatinya untuk bersabar. Yang ia inginkan satu: mati. Dalam benaknya hanya kematian yang dapat memutus mata rantai penderitaan. Dan ia ingin sekali lepas dari rupa-rupa derita itu.